Tujuh Mitos Air Traffic Controller
Mitos atau dalam bahasa Inggris myth, menurut dictionary termasuk
“A belief or story that illustrates a cultural ideal”. Suatu keyakinan
atau cerita yang dipercaya oleh masyarakat umum namun sebenarnya memiliki fakta
yang berbeda.
Berikut adalah beberapa mitos yang mengenai profesi air
traffic controller:
1.
Controller tidak
membawa pekerjaan ke rumah
Secara fisik mengontrol pesawat memang tidak bisa dikerjakan di
rumah, entah kalo ada yang pernah bawa pulang radio frekuensi. Namun
seorang controller yang melakukan kesalahan saat bekerja, bisa dipastikan
menderita stres atau depresi dengan tingkatannya tergantung tingkat kesalahannya.
Contoh: telat koordinasi
yang menyebabkan breakdown of coordination, dengan Brisbane
misalnya, bisa membuat perasaan kurang enak (atau gemes) saat pulang ke rumah.
Namun kesalahan vektor pesawat hingga menyebabkan nearmiss (hampir
tabrakan) bisa menyebabkan sang controller depresi hingga tidak enak makan atau
tidur.
Ini sebabnya peribahasa
favorit controller adalah “Sky is vast but
there is no room for error”. Bagaimana tidak sedikit
kesalahan dapat membuat makan sushi terasa hambar sampai tidak bisa tidur.
2.
Controller jago berbahasa
Inggris
Hanya karena sehari-hari
ngobrol dengan pilot di frekuensi pake bahasa inggris belum tentu controller jago
bahasa inggris beneran. Karena bahasa Inggris yang digunakan controller dalam
kegiatan sehari-hari adalah bentuk baku yang disebut phraseology,
misalnya clear to land, clear for take off,
dan lain-lain.
Berikut contoh phraseology yang
terdengar keren ditelinga orang biasa:
Ø Cathay
one zero three confirm require higher level before Onoxa.
Ø Jetstar
two two zero, due to traffic ahead, requirement maintain mach point eight zero
or less
Ø Silk
air one nine four turn right heading one zero zero vectoring for localizer
runway two seven.
Sepertinya keren kan?
3.
Controller gampang dapat tiket gratis
Meski sehari-hari controller berhubungan erat
dalam berkomunikasi dengan penerbang namun perusahaan tempat controller bekerja
berbeda dengan perusahaan penerbangan.
Pepatah “There is no
free lunch” pun berlaku di dunia penerbangan.
4. Controller dapat
libur lebih banyak
Di perusahaan yang
mempekerjakan controller di Indonesia, jatah libur tahunan
pekerja dengan jadwal shift tidak dibedakan dengan pekerja jam kantoran,
Namun yang pasti disaat pekerja kantoran (office hours) mendapat
jatah libur bersama yang ditetapkan pemerintah, controller dan
pekerja shift lainnya tidak memperoleh jatah yang sama atau kompensasi libur
pada hari lainnya.
5.
Controller paham segala yang berhubungan dengan teknologi
tinggi
Kisahnya mirip mitos berbahasa Inggris tapi disini
topiknya teknologi. Kebanyakan controller yang bekerja
di depan layar radar, sambil ngobrolin ADS/CPDLC dan keliatan sibuk klak klik
sana sini.
ADS : Automatic Dependen Surveilance (istilah pada radar)
CPDLC : Controller Pilot Data Link Communication (dimana controller bisa
mengirimkan pesan text ke pilot untuk komunikasi)
6. Controller adalah
pekerjaan profesional
Entah apa definisi yang
anda yakini mengenai profesional, namun menurut ISCO (International
Standards Classification of Occupation) – klasifikasi pekerjaan berdasarkan
standar internasional – air traffic controller, termasuk
penerbang, photografer, teknisi penerbangan masuk dalam klasifikasi ketiga
yaitu Technician and Associate Professional. Hanya setingkat
lebih tinggi dari klasifikasi keempat yaitu buruh (clerks).
Jadi siapa yang masuk klasifikasi profesional: Ilmuan, Dokter,
Dosen, Ekonom, Akuntan, Hakim, Pustakawan dsb.
7.
Controller adalah pekerjaan yang aman
Bila masih percaya
bahwa controller merupakan pekerjaan yang aman, baca fakta
dibawah di postingan ini http://acilscolumn.com/2006/11/01/mistake/ (Controller juga
manusia, mulai dari pidana hingga pembunuhan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar