Selasa, 05 November 2013

Tujuh Mitos Air Traffic Controller

Mitos atau dalam bahasa Inggris myth, menurut dictionary termasuk “A belief or story that illustrates a cultural ideal”. Suatu keyakinan atau cerita yang dipercaya oleh masyarakat umum namun sebenarnya memiliki fakta yang berbeda.
Berikut adalah beberapa mitos yang mengenai profesi air traffic controller:
1.       Controller tidak membawa pekerjaan ke rumah
Secara fisik mengontrol pesawat memang tidak bisa dikerjakan di rumah, entah kalo ada yang pernah bawa pulang radio frekuensi.  Namun seorang controller yang melakukan kesalahan saat bekerja, bisa dipastikan menderita stres atau depresi dengan tingkatannya tergantung tingkat kesalahannya.
Contoh: telat koordinasi yang menyebabkan breakdown of coordination, dengan Brisbane misalnya, bisa membuat perasaan kurang enak (atau gemes) saat pulang ke rumah.  Namun kesalahan vektor pesawat hingga menyebabkan nearmiss (hampir tabrakan) bisa menyebabkan sang controller depresi hingga tidak enak makan atau tidur.
Ini sebabnya peribahasa favorit controller adalah “Sky is vast but there is no room for error.  Bagaimana tidak sedikit kesalahan dapat membuat makan sushi terasa hambar sampai tidak bisa tidur.

2.  Controller jago berbahasa Inggris
Hanya karena sehari-hari ngobrol dengan pilot di frekuensi pake bahasa inggris belum tentu controller jago bahasa inggris beneran.  Karena bahasa Inggris yang digunakan controller dalam kegiatan sehari-hari adalah bentuk baku yang disebut phraseology, misalnya clear to landclear for take off, dan lain-lain.
Berikut contoh phraseology yang terdengar keren ditelinga orang biasa:

Ø  Cathay one zero three confirm require higher level before Onoxa.
Ø  Jetstar two two zero, due to traffic ahead, requirement maintain mach point eight zero or less
Ø  Silk air one nine four turn right heading one zero zero vectoring for localizer runway two seven.

 Sepertinya keren kan?
3.  Controller gampang dapat tiket gratis
Meski sehari-hari controller berhubungan erat dalam berkomunikasi dengan penerbang namun perusahaan tempat controller bekerja berbeda dengan perusahaan penerbangan.
Pepatah “There is no free lunch” pun berlaku di dunia penerbangan.

4.  Controller dapat libur lebih banyak
Di perusahaan yang mempekerjakan controller di Indonesia, jatah libur tahunan pekerja dengan jadwal shift tidak dibedakan dengan pekerja jam kantoran,  Namun yang pasti disaat pekerja kantoran (office hours) mendapat jatah libur bersama yang ditetapkan pemerintah, controller dan pekerja shift lainnya tidak memperoleh jatah yang sama atau kompensasi libur pada hari lainnya.

5.  Controller paham segala yang berhubungan dengan teknologi tinggi
Kisahnya mirip mitos berbahasa Inggris tapi  disini topiknya teknologi.  Kebanyakan controller yang bekerja di depan layar radar, sambil ngobrolin ADS/CPDLC dan keliatan sibuk klak klik sana sini.
ADS : Automatic Dependen Surveilance (istilah pada radar)
CPDLC : Controller Pilot Data Link Communication (dimana controller bisa mengirimkan pesan text ke pilot untuk komunikasi)
6.  Controller adalah pekerjaan profesional
Entah apa definisi yang anda yakini mengenai profesional, namun menurut ISCO (International Standards Classification of Occupation) – klasifikasi pekerjaan berdasarkan standar internasional – air traffic controller, termasuk penerbang, photografer, teknisi penerbangan masuk dalam klasifikasi ketiga yaitu Technician and Associate Professional.  Hanya setingkat lebih tinggi dari klasifikasi keempat yaitu buruh (clerks).
Jadi siapa yang masuk klasifikasi profesional: Ilmuan, Dokter, Dosen, Ekonom, Akuntan, Hakim, Pustakawan dsb.
7.  Controller adalah pekerjaan yang aman
Bila masih percaya bahwa controller merupakan pekerjaan yang aman, baca fakta dibawah di postingan ini http://acilscolumn.com/2006/11/01/mistake/ (Controller juga manusia, mulai dari pidana hingga pembunuhan)